Standar PUEBI

standar PUEBI

Pengertian Standar PUEBI

PUEBI adalah standar rujukan yang dapat dijadikan pedoman dan acuan untuk berbagai kalangan pengguna bahasa Indonesia, terutama dalam pemakaian bahasa tulisan secara baik dan benar.

Istilah PUEBI merupakan kependekan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Pedoman ini diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebelum ada PUEBI, pedoman ejaan yang digunakan di Indonesia adalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan atau disingkat PUEYD.

PUEBI disusun untuk menyempurnakan PUEYD oleh Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, pakar dan ahli bahasa, pengambil kebijakan di tingkat kementerian, serta berbagai pihak.

 

Latar belakang sejarah penyusunan Standar PUEBI

Pada tahun 1901, peraturan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin ditetapkan.

1938, pada Kongres Bahasa Indonesia yang per­tama di Solo, disarankan agar ejaan Indonesia lebih banyak diinter­nasionalkan.

1947, Menteri Pengajaran, Pen­didikan, dan Kebudayaan menetapkan peru­bahan ejaan bahasa Indonesia dengan maksud membuat ejaan yang berlaku menjadi lebih sederhana. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan Ejaan Republik.

1954, Kongres Bahasa Indonesia Kedua mengambil keputusan supaya ada badan yang menyusun peraturan ejaan yang praktis bagi bahasa Indonesia.

1957, panitia yang dimaksud yang dibentuk oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan berhasil merumuskan patokan-patokan baru.

1968, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan menjadi Lembaga Baha­sa Nasional.

1975, berubah lagi menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, yang kemudian menyusun program pembakuan baha­sa Indonesia secara menyeluruh.

1966, Panitia Ejaan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang disahkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyusun konsep yang di­tanggapi dan dikaji oleh kalangan luas di seluruh tanah air selama beberapa tahun.

1972, dires­mikan aturan ejaan yang baru berdasarkan keputusan Presi­den, No. 57, tahun 1972, dengan nama Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyu­sun buku Pedoman Umum yang berisi pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas.

1988, Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (PUEYD) edisi kedua diterbitkan berdasarkan Keputusan Menteri Pen­didikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0543a/U/1987.

2009, edisi ketiga diterbitkan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46.

Pada 30 November 2015, Permendiknas Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Kemudian, Permendiknas tersebut digantikan dengan Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

2016, edisi keempat diterbitkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yan tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tanggal 26 November 2016 :

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD) diganti dengan nama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang penyem­purnaan naskahnya disusun oleh Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

 

Perbedaan Standar PUEBI dan Standar EYD

Ada beberapa perbedaan mendasar antara PUEBI dan EYD. Diantaranya adalah :

  • Pada EYD, penulisan nama orang diawali huruf kapital. Namun, untuk nama julukan tetap menggunakan huruf kecil. Sedangkan aturan PUEBI, huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama untuk menyebut nama orang, termasuk julukan.
  • Dalam EYD, untuk menegaskan kata atau kalimat digunakan huruf miring. sedangkan pada PUEBI, huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring.
  • Di EYD, penggunaan partikel “pun”, ditulis terpisah kecuali lekat dengan kata yang sudah lazim digunakan. Sedangkan pada PUEBI partikel “pun” tetap ditulis terpisah, kecuali mengikuti unsur kata penghubung harus dituliskan serangkai.
  • Pada EYD hanya ada tiga diftong, yakni “ai, au, dan ao”. Sedangkan di PUEBI ditambah satu diftong, yakni “ei”. Penambahan diftong “ei” lantaran bahasa Indonesia menyerap banyak kosakata dari berbagai bahasa asing. Kemudian, banyak istilah asing juga memakai diftong ‘ei’. Misalnya, pada kata ‘survei’. Maka dari itu ditambahkan diftong “ei” di PUEBI.

 

Pengguna PUEBI

  • Tenaga pengajar seperti : guru, dosen, trainer
  • Lembaga bahasa atau lembaga lain yang berkaitan dengan bahasa indonesia
  • Masyarakat luas pengguna bahasa indonesia

 

Tujuan adanya PUEBI

  • Pedoman ini diharapkan dapat mengakomodasi perkembangan bahasa Indonesia yang makin pesat sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  • Secara langsung atau tidak langsung akan mempercepat proses tertib berbahasa Indonesia sehingga memantapkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

 

Download PUEBI

Tautan unduhan atau link download PUEBI

Untuk melihat isi dan mengunduh file buku PUEBI, dapat langsung download dari situs Kemdikbud sebagai berikut : klik di sini

Keterangan terkait bisa dilihat di laman milik badan bahasa di alamat berikut : http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa

 

Struktur isi PUEBI edisi keempat

Isi PUEBI dibagi menjadi 4 bagian berikut :

  1. Pemakaian Huruf
  • Huruf Abjad
  • Huruf Vokal
  • Huruf Konsonan
  • Huruf Diftong
  • Gabungan Huruf Konsonan
  • Huruf Kapital
  • Huruf Miring
  • Huruf Tebal
  1. Penulisan Kata
  • Kata Dasar
  • Kata Berimbuhan
  • Bentuk Ulang
  • Gabungan Kata
  • Pemenggalan Kata
  • Kata Depan
  • Partikel
  • Singkatan dan Akronim
  • Angka dan Bilangan
  • Kata Ganti
  • Kata Sandang
  1. Pemakaian Tanda Baca
  • Tanda Titik (.)
  • Tanda Koma (,)
  • Tanda Titik Koma (;)
  • Tanda Titik Dua (:)
  • Tanda Hubung (-)
  • Tanda Pisah (—)
  • Tanda Tanya (?)
  • Tanda Seru (!)
  • Tanda Elipsis (…)
  • Tanda Petik (“…”)
  • Tanda Petik Tunggal (‘…’)
  • Tanda Kurung ((…))
  • Tanda Kurung Siku ([…])
  • Tanda Garis Miring (/)
  • Tanda Penyingkat (”)
  1. Penulisan Unsur Serapan

 

Isi PUEBI edisi keempat

Pemakaian Huruf

Huruf Abjad

Abjad yang dipakai dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf berikut.

KAPITAL NONKAPITAL NAMA PENGUCAPAN
A a a a
B b be
C c ce
D d de
E e e é
F f ef èf
G g ge
H h ha ha
I i i i
J j je
K k ka ka
L l el èl
M m em èm
N n en èn
O o o o
P p pe
Q q ki ki
R r er èr
S s es ès
T t te
U u u u
V v ve
W w we
X x eks èks
Y y ye
Z z zet zèt

 

Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas lima huruf, yaitu a, e, i, o, dan u.

HURUF

VOKAL

POSISI

AWAL

POSISI

TENGAH

POSISI

AKHIR

a api padi lusa
e* enak petak sore
ember pendek
emas kena tipe
i itu simpan murni
o oleh kota radio
u ulang bumi ibu

 

Keterangan:

* Untuk pengucapan (pelafalan) kata yang benar, diakritik berikut ini dapat digunakan jika ejaan kata itu dapat menimbulkan keraguan.

Diakritik (é) dilafalkan [e]. Misalnya:

  • Anak-anak bermain di teras (téras).
  • Kedelai merupakan bahan pokok kecap (kécap).

Diakritik (è) dilafalkan [ɛ]. Misalnya:

  • Kami menonton film seri (sèri).
  • Pertahanan militer (militèr) Indonesia cukup kuat.

Diakritik (ê) dilafalkan [ə]. Misalnya:

  • Pertandingan itu berakhir seri (sêri).
  • Upacara itu dihadiri pejabat teras (têras) Bank Indonesia.
  • Kecap (kêcap) dulu makanan itu.

 

Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

HURUF

KONSONAN

POSISI

AWAL

POSISI TENGAH POSISI

AKHIR

b bahasa sebut adab
c cakap kaca
d dua ada abad
f fakir kafan maaf
g guna tiga gudeg
h hari saham tuah
j jalan manja mikraj
k kami paksa politik
l lekas alas akal
m maka kami diam
n nama tanah daun
p pasang apa siap
q* qariah iqra
r raih bara putar
s sampai asli tangkas
t tali mata rapat
v variasi lava molotov
w wanita hawa takraw
x* xenon
y yakin payung
z zeni lazim juz

Keterangan:

* Huruf q dan x khusus digunakan untuk nama diri dan keperluan ilmu. Huruf x pada posisi awal kata diucapkan [s].

Catatan:

PUEBI 2015 menghilangkan keterangan “Huruf k melambangkan bunyi hamzah” dengan contoh “rakyat” dan “bapak“.

Empat konsonan (c, q, x, dan y) tidak digunakan di posisi akhir kata dasar bahasa Indonesia. Konsonan y bisa terletak di akhir, tetapi dalam bentuk gabungan huruf konsonan sy, misalnya pada arasy.

 

Huruf Diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat diftong yang dilambangkan dengan gabungan huruf vokal ai, au, ei, dan oi.

HURUF DIFTONG POSISI AWAL POSISI TENGAH POSISI AKHIR
ai balairung pandai
au autodidak taufik harimau
ei* eigendom geiser survei
oi boikot amboi

Catatan:

PUEBI 2015 menambahkan diftong ei. Pedoman ejaan sebelumnya hanya mencantumkan tiga diftong: ai, au, dan oi.

 

Gabungan Huruf Konsonan

Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.

GABUNGAN

HURUF

KONSONAN

POSISI

AWAL

POSISI

TENGAH

POSISI

AKHIR

kh khusus akhir tarikh
ng ngarai bangun senang
ny nyata banyak
sy syarat musyawarah arasy

 

Huruf Kapital

I.F.1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat. Misalnya:

  • Apa maksudnya?
  • Dia membaca buku.
  • Kita harus bekerja keras.
  • Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.

I.F.2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan. Misalnya:

  • Amir Hamzah
  • Dewi Sartika
  • Halim Perdanakusumah
  • Wage Rudolf Supratman
  • Jenderal Kancil
  • Dewa Pedang
  • Alessandro Volta
  • André-Marie Ampère
  • Mujair
  • Rudolf Diesel

Catatan:

(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang merupakan nama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

  • ikan mujair
  • mesin diesel
  • 5 ampere
  • 10 volt

(2) Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.

Misalnya:

  • Abdul Rahman bin Zaini
  • Siti Fatimah binti Salim
  • Indani boru Sitanggang
  • Charles Adriaan van Ophuijsen
  • Ayam Jantan dari Timur
  • Mutiara dari Selatan

Catatan:

PUEBI 2015 menambahkan (1) penjelasan “termasuk julukan” pada I.F.2., misalnya Jendral Kancil dan Dewa Pedang; serta (2) penjelasan “yang bermakna ‘anak dari’” pada catatan kedua. Kedua tambahan ini tampaknya bertujuan untuk memperjelas pedoman sebelumnya.

 

I.F.3. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.

Misalnya:

  • Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
  • Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”
  • “Mereka berhasil meraih medali emas,” katanya.
  • “Besok pagi,” katanya, “mereka akan berangkat.”

 

I.F.4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan

Misalnya:

  • Islam
  • Alquran
  • Kristen
  • Alkitab
  • Hindu
  • Weda
  • Allah
  • Tuhan
  • Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
  • Ya, Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat.

 

I.F.5.a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.

Misalnya:

  • Sultan Hasanuddin
  • Mahaputra Yamin
  • Haji Agus Salim
  • Imam Hambali
  • Nabi Ibrahim
  • Raden Ajeng Kartini
  • Doktor Mohammad Hatta
  • Agung Permana, Sarjana Hukum
  • Irwansyah, Magister Humaniora

 

I.F.5.b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.

Misalnya:

  • Selamat datang, Yang Mulia.
  • Semoga berbahagia, Sultan.
  • Terima kasih, Kiai.
  • Selamat pagi, Dokter.
  • Silakan duduk, Prof.
  • Mohon izin, Jenderal.

 

I.F.6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:

  • Wakil Presiden Adam Malik
  • Perdana Menteri Nehru
  • Profesor Supomo
  • Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
  • Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)
  • Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  • Gubernur Papua Barat

 

I.F.7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Misalnya:

  • bangsa Indonesia
  • suku Dani
  • bahasa Bali

Catatan: Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.

Misalnya:

  • pengindonesiaan kata asing
  • keinggris-inggrisan
  • kejawa-jawaan

 

I.F.8.a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.

Misalnya:

  • tahun Hijriah
  • tarikh Masehi
  • bulan Agustus
  • bulan Maulid
  • hari Jumat
  • hari Galungan
  • hari Lebaran
  • hari Natal

 

I.F.8.b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.

Misalnya:

  • Konferensi Asia Afrika
  • Perang Dunia II
  • Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Catatan: Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama tidak ditulis dengan huruf kapital.

Misalnya:

  • Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
  • Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

 

I.F.9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Misalnya:

  • Jakarta
  • Asia Tenggara
  • Pulau Miangas
  • Amerika Serikat
  • Bukit Barisan
  • Jawa Barat
  • Dataran Tinggi
  • Dieng Danau Toba
  • Jalan Sulawesi
  • Gunung Semeru
  • Ngarai Sianok
  • Jazirah Arab
  • Selat Lombok
  • Lembah Baliem
  • Sungai Musi
  • Pegunungan Himalaya
  • Teluk Benggala
  • Tanjung Harapan
  • Terusan Suez
  • Kecamatan Cicadas
  • Gang Kelinci
  • Kelurahan Rawamangun

Catatan:

(1) Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan huruf kapital.

Misalnya:

  • berlayar ke teluk mandi di sungai
  • menyeberangi selat berenang di danau

(2) Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis tidak ditulis dengan huruf kapital.

Misalnya:

  • jeruk bali (Citrus maxima)
  • kacang bogor (Voandzeia subterranea)
  • nangka belanda (Anona muricata)
  • petai cina (Leucaena glauca)

Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya.

Misalnya:

  • Kita mengenal berbagai macam gula, seperti gula jawa, gula pasir, gula tebu, gula aren, dan gula anggur.
  • Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring mempunyai fungsi yang berbeda.

Contoh berikut bukan nama jenis.

  • Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura.
  • Selain film Hongkong, juga akan diputar film India, film Korea, dan film Jepang.
  • Murid-murid sekolah dasar itu menampilkan tarian Sumatra Selatan, tarian Kalimantan Timur, dan tarian Sulawesi Selatan.

Catatan:

PUEBI 2015 menambahkan cara pembedaan unsur nama geografi yang menjadi bagian nama diri (proper name) dan nama jenis (common name).

 

I.F.10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.

Misalnya:

  • Republik Indonesia
  • Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
  • Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
  • Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Lainnya
  • Perserikatan Bangsa-Bangsa
  • Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

 

I.F.11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:

  • Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
  • Tulisan itu dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra.
  • Dia agen surat kabar Sinar Pembangunan.
  • Ia menyajikan makalah “Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata”.

 

I.F.12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.

Misalnya:

  • H. = sarjana hukum
  • K.M. = sarjana kesehatan masyarakat
  • S. = sarjana sastra
  • A. = master of arts
  • Hum. = magister humaniora
  • Si. = magister sains
  • H. = kiai haji
  • = hajah
  • = monseigneur
  • = pendeta
  • = daeng
  • = datuk
  • A. = raden ayu
  • = sutan
  • = tubagus
  • = doktor
  • = profesor
  • = tuan
  • = nyonya
  • = saudara

Catatan:

PUEBI 2015 menambahkan contoh gelar lokal Daeng dan Datuk.

 

I.F.13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.

Misalnya:

  • “Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan. Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?”
  • “Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.
  • Surat Saudara telah kami terima dengan baik.
  • “Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”
  • “Bu, saya sudah melaporkan hal ini kepada Bapak.”

Catatan:

PUEBI 2015 menambahkan penjelasan penulisan kata atau ungkapan lain yang digunakan sebagai penyapaan ditulis dengan huruf kapital, misalnya Kutu Buku.

Catatan:

(1) Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan penyapaan atau pengacuan.

Misalnya:

  • Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
  • Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

(2) Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.

Misalnya:

  • Sudahkah Anda tahu?
  • Siapa nama Anda?

 

Huruf Miring

I.G.1. Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka.

Misalnya:

  • Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis.
  • Majalah Poedjangga Baroe menggelorakan semangat kebangsaan.
  • Berita itu muncul dalam surat kabar Cakrawala.
  • Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat (Cetakan Kedua). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

I.G.2. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.

Misalnya:

  • Huruf terakhir kata abad adalah d.
  • Dia tidak diantar, tetapi mengantar.
  • Dalam bab ini tidak dibahas pemakaian tanda baca.
  • Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan lepas tangan.

 

I.G.3. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing.

Misalnya:

  • Upacara peusijuek (tepung tawar) menarik perhatian wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh.
  • Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
  • Weltanschauung bermakna ‘pandangan dunia’.
  • Ungkapan bhinneka tunggal ika dijadikan semboyan negara Indonesia.

Catatan:

(1) Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.

(2) Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian yang akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.

(3) Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip secara langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.

 

Huruf Tebal

I.H.1. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring.

Misalnya:

  • Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
  • Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti ‘dan’.

I.H.2. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau subbab.

Misalnya:

  • 1 Latar Belakang dan Masalah
    Kondisi kebahasaan di Indonesia yang diwarnai oleh satu bahasa standar dan ratusan bahasa daerah—ditambah beberapa bahasa asing, terutama bahasa Inggris— membutuhkan penanganan yang tepat dalam perencanaan bahasa. Agar lebih jelas, latar belakang dan masalah akan diuraikan secara terpisah seperti tampak pada paparan berikut.
  • 1.1 Latar Belakang
    Masyarakat Indonesia yang heterogen menyebabkan munculnya sikap yang beragam terhadap penggunaan bahasa yang ada di Indonesia, yaitu (1) sangat bangga terhadap bahasa asing, (2) sangat bangga terhadap bahasa daerah, dan (3) sangat bangga terhadap bahasa Indonesia.
  • 1.2 Masalah
    Penelitian ini hanya membatasi masalah pada sikap bahasa masyarakat Kalimantan terhadap ketiga bahasa yang ada di Indonesia. Sikap masyarakat tersebut akan digunakan sebagai formulasi kebijakan perencanaan bahasa yang diambil.
  • 2 Tujuan
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengukur sikap bahasa masyarakat Kalimantan, khususnya yang tinggal di kota besar terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.

Catatan:

Huruf tebal tidak dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat. Untuk tujuan ini, gunakan huruf miring.

 

PENULISAN KATA

Kata Dasar

Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya:

  • Kantor pajak penuh sesak.
  • Saya pergi ke sekolah.
  • Buku itu sangat tebal.

 

Kata Berimbuhan

II.B.1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Misalnya:

  • berjalan
  • berkelanjutan
  • mempermudah
  • gemetar
  • lukisan
  • kemauan
  • perbaikan

Catatan: Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Misalnya:

  • sukuisme
  • seniman
  • kamerawan
  • gerejawi

 

II.B.2. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

Misalnya:

  • adibusana
  • aerodinamika
  • antarkota
  • antibiotik
  • awahama
  • bikarbonat
  • biokimia
  • dekameter
  • demoralisasi
  • dwiwarna
  • ekabahasa
  • ekstrakurikuler
  • infrastruktur
  • inkonvensional
  • kontraindikasi
  • kosponsor
  • mancanegara
  • multilateral
  • narapidana
  • nonkolaborasi
  • paripurna
  • pascasarjana
  • pramusaji
  • prasejarah
  • proaktif
  • purnawirawan
  • saptakrida
  • semiprofesional
  • subbagian
  • swadaya
  • telewicara
  • transmigrasi
  • tunakarya
  • tritunggal
  • tansuara
  • ultramodern

Catatan:

(1) Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf kapital dirangkaikan dengan tanda hubung (-).

Misalnya:

  • non-Indonesia
  • pan-Afrikanisme
  • pro-Barat
  • non-ASEAN
  • anti-PKI

(2) Bentuk maha yang diikuti kata turunan yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.

Misalnya:

  • Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
  • Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

(3) Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai.

Misalnya:

  • Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
  • Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

 

Bentuk Ulang

Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.

Misalnya:

  • anak-anak
  • biri-biri
  • lauk-pauk
  • berjalan-jalan
  • buku-buku
  • cumi-cumi
  • mondar-mandir
  • mencari-cari
  • hati-hati
  • kupu-kupu
  • ramah-tamah
  • terus-menerus
  • kuda-kuda
  • kura-kura
  • sayur-mayur
  • porak-poranda
  • mata-mata
  • ubun-ubun
  • serba-serbi
  • tunggang-langgang

Catatan: Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama.

Misalnya:

  • surat kabar → surat-surat kabar
  • kapal barang → kapal-kapal barang
  • rak buku → rak-rak buku
  • kereta api cepat → kereta-kereta api cepat

Catatan:

Bila bentuk ulang diberi huruf kapital, misalnya pada nama diri (nama lembaga, dokumen, dll.) atau judul (buku, majalah, dll.), bentuk ulang sempurna diberi huruf kapital pada huruf pertama tiap unsurnya, sedangkan bentuk ulang lain hanya diberi huruf kapital pada huruf pertama unsur pertamanya. Misalnya:

  • Ia menyajikan makalah “Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata”.
  • Slogan “Terus-menerus Ramah-tamah” dikampanyekan gubernur baru itu.

 

Gabungan Kata

II.D.1. Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah.

Misalnya:

  • duta besar
  • model linear
  • kambing hitam
  • persegi panjang
  • orang tua
  • rumah sakit jiwa
  • simpang empat
  • meja tulis
  • mata acara
  • cendera mata

 

II.D.2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian ditulis dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.

Misalnya:

  • anak-istri pejabat (anak dan istri dari pejabat)
  • anak istri-pejabat (anak dari istri pejabat)
  • ibu-bapak kami (ibu dan bapak kami)
  • ibu bapak-kami (ibu dari bapak kami)
  • buku-sejarah baru (buku sejarah yang baru)
  • buku sejarah-baru (buku tentang sejarah baru)

 

II.D.3. Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat awalan atau akhiran.

Misalnya:

  • bertepuk tangan
  • menganak sungai
  • garis bawahi
  • sebar luaskan

 

II.D.4. Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.

Misalnya:

  • dilipatgandakan
  • menggarisbawahi
  • menyebarluaskan
  • penghancurleburan
  • pertanggungjawaban

 

II.D.5. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.

Misalnya:

  • acapkali
  • adakalanya
  • apalagi
  • bagaimana
  • barangkali
  • beasiswa
  • belasungkawa
  • bilamana
  • bumiputra
  • darmabakti
  • dukacita
  • hulubalang
  • kacamata
  • kasatmata
  • kilometer
  • manasuka
  • matahari
  • olahraga
  • padahal
  • peribahasa
  • perilaku
  • puspawarna
  • radioaktif
  • saptamarga
  • saputangan
  • saripati
  • sediakala
  • segitiga
  • sukacita
  • sukarela
  • syahbandar
  • wiraswata

 

Pemenggalan Kata

II.E.1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.

Misalnya:

  • bu-ah
  • ma-in
  • ni-at
  • sa-at

 

Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipenggal.

Misalnya:

  • pan-dai
  • au-la
  • sau-da-ra
  • sur-vei
  • am-boi

 

Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu.

Misalnya:

  • ba-pak
  • la-wan
  • de-ngan
  • ke-nyang
  • mu-ta-khir
  • mu-sya-wa-rah

 

Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.

Misalnya:

  • Ap-ril
  • cap-lok
  • makh-luk
  • man-di
  • sang-gup
  • som-bong
  • swas-ta

 

Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih yang masing- masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

Misalnya:

  • ul-tra
  • in-fra
  • ben-trok
  • in-stru-men

Catatan: Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal.

Misalnya:

  • bang-krut
  • bang-sa
  • ba-nyak
  • ikh-las
  • kong-res
  • makh-luk
  • masy-hur
  • sang-gup

 

II.E.2. Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan di antara bentuk dasar dan unsur pembentuknya.

Misalnya:

  • ber-jalan
  • mem-pertanggungjawabkan
  • mem-bantu
  • memper-tanggungjawabkan
  • di-ambil
  • mempertanggung-jawabkan
  • ter-bawa
  • mempertanggungjawab-kan
  • per-buat
  • me-rasakan
  • makan-an
  • merasa-kan
  • letak-kan
  • per-buatan
  • pergi-lah
  • perbuat-an
  • apa-kah
  • ke-kuatan
  • kekuat-an

Catatan:

(1) Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami perubahan dilakukan seperti pada kata dasar.

Misalnya:

  • me–nu-tup
  • me–ma-kai
  • me–nya-pu
  • me–nge-cat
  • pe–mi-kir
  • pe–no-long
  • pe–nga-rang
  • pe–nge-tik
  • pe–nye-but

(2) Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata dasar.

Misalnya:

  • ge-lem-bung
  • ge-mu-ruh
  • ge-ri-gi
  • si-nam-bung
  • te-lun-juk

(3) Pemenggalan kata yang menyebabkan munculnya satu huruf di awal atau akhir baris tidak dilakukan.

Misalnya:

  • Beberapa pendapat mengenai masalah itu
    telah disampaikan ….
  • Walaupun cuma-cuma, mereka tidak mau
    mengambil makanan itu.

 

II.E.3. Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap unsur gabungan itu dipenggal seperti pada kata dasar.

Misalnya:

  • biografi, bio-grafi, bi-o-gra-fi
  • biodata, bio-data, bi-o-da-ta
  • fotografi, foto-grafi, fo-to-gra-fi
  • fotokopi, foto-kopi, fo-to-ko-pi
  • introspeksi, intro-speksi, in-tro-spek-si
  • introjeksi, intro-jeksi, in-tro-jek-si
  • kilogram, kilo-gram, ki-lo-gram
  • kilometer, kilo-meter, ki-lo-me-ter
  • pascapanen, pasca-panen, pas-ca-pa-nen
  • pascasarjana, pasca-sarjana, pas-ca-sar-ja-na

 

II.E.4. Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada akhir baris dipenggal di antara unsur-unsurnya.

Misalnya:

  • Lagu “Indonesia Raya” digubah oleh Wage Rudolf
  • Buku Layar Terkembang dikarang oleh Sutan Takdir

 

II.E.5. Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf atau lebih tidak dipenggal.

Misalnya:

Ia bekerja di DLLAJR. Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.Ng. Rangga Warsita.

Catatan: Penulisan berikut dihindari.

  • Ia bekerja di DLL-
  • Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.
    Rangga Warsita.

 

Kata Depan

Kata depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

  • Di mana dia sekarang?
  • Kain itu disimpan di dalam lemari.
  • Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
  • Mari kita berangkat ke kantor.
  • Saya pergi ke sana mencarinya.
  • Ia berasal dari Pulau Penyengat.
  • Cincin itu terbuat dari emas.

 

Partikel

II.G.1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

  • Bacalah buku itu baik-baik!
  • Apakah yang tersirat dalam surat itu?
  • Siapakah gerangan dia?
  • Apakah gunanya bersedih hati?

 

II.G.2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

  • Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
  • Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih tersedia.
  • Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.

Catatan: Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai.

Misalnya:

  • Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
  • Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
  • Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
  • Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu depan.

 

II.G.3. Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

  • Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
  • Harga kain itu Rp50.000,00 per meter.
  • Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.

 

Singkatan dan Akronim

II.H.1. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.

Misalnya:

  • H. Nasution = Abdul Haris Nasution
  • Hamid = Haji Hamid
  • Suman Hs. = Suman Hasibuan
  • R. Supratman = Wage Rudolf Supratman
  • B.A. = master of business administration
  • Hum. = magister humaniora
  • Si. = magister sains
  • E. = sarjana ekonomi
  • Sos. = sarjana sosial
  • Kom. = sarjana komunikasi
  • K.M. = sarjana kesehatan masyarakat
  • = saudara
  • Darmawati = Kolonel Darmawati

 

II.H.2.a. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:

  • NKRI = Negara Kesatuan Republik Indonesia
  • UI = Universitas Indonesia
  • PBB = Perserikatan Bangsa-Bangsa
  • WHO = World Health Organization
  • PGRI = Persatuan Guru Republik Indonesia
  • KUHP = Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

 

II.H.2.b. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:

  • PT = perseroan terbatas
  • MAN = madrasah aliah negeri
  • SD = sekolah dasar
  • KTP = kartu tanda penduduk
  • SIM = surat izin mengemudi
  • NIP = nomor induk pegawai

 

II.H.3. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

  • = halaman
  • = dan lain-lain
  • = dan sebagainya
  • = dan seterusnya
  • = sama dengan di atas
  • = yang bersangkutan
  • = yang terhormat
  • = tertanda
  • = dan kawan-kawan

 

II.H.4. Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik.

Misalnya:

  • n. = atas nama
  • a. = dengan alamat
  • b. = untuk beliau
  • p. = untuk perhatian
  • d. = sampai dengan

II.H.5. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Misalnya:

  • Cu = kuprum
  • cm = sentimeter
  • kVA = kilovolt-ampere
  • l = liter
  • kg = kilogram
  • Rp = rupiah

 

II.H.6. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:

  • BIG = Badan Informasi Geospasial
  • BIN = Badan Intelijen Negara
  • LIPI = Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
  • LAN = Lembaga Administrasi Negara
  • PASI = Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

 

II.H.7. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.

Misalnya:

  • Bulog = Badan Urusan Logistik
  • Bappenas = Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
  • Kowani = Kongres Wanita Indonesia
  • Kalteng = Kalimantan Tengah
  • Mabbim = Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia
  • Suramadu = Surabaya Madura

 

II.H.8. Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya:

  • iptek = ilmu pengetahuan dan teknologi
  • pemilu = pemilihan umum
  • puskesmas = pusat kesehatan masyarakat
  • rapim = rapat pimpinan
  • rudal = peluru kendali
  • tilang = bukti pelanggaran

 

Angka dan Bilangan

Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor.

  • Angka Arab: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
  • Angka Romawi: I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000), V̄ (5.000), M̄ (1.000.000)

 

II.I.1. Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian.

Misalnya:

  • Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
  • Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
  • Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.
  • Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus, dan 250 sedan.

 

II.I.2. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.

Misalnya:

  • Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
  • Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

Catatan: Penulisan berikut dihindari:

  • 50 siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
  • 3 pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

 

Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, susunan kalimatnya diubah.

Misalnya:

  • Panitia mengundang 250 orang peserta.
  • Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.

Catatan: Penulisan berikut dihindari:

  • 250 orang peserta diundang panitia.
  • 25 naskah kuno tersimpan di lemari itu.

 

II.I.3. Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian dengan huruf supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:

  • Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.
  • Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
  • Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.

 

II.I.4. Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, isi, dan waktu serta (b) nilai uang.

Misalnya:

  • 0,5 sentimeter
  • 5 kilogram
  • 4 hektare
  • 10 liter
  • 2 tahun 6 bulan 5 hari
  • 1 jam 20 menit
  • 000,00
  • US$3,50
  • £5,10
  • ¥100

 

II.I.5. Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, rumah, apartemen, atau kamar.

Misalnya:

  • Jalan Tanah Abang I No. 15 atau
  • Jalan Tanah Abang I/15
  • Jalan Wijaya No. 14
  • Hotel Mahameru, Kamar 169
  • Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201

 

II.I.6. Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.

Misalnya:

  • Bab X, Pasal 5, halaman 252
  • Surah Yasin: 9
  • Markus 16: 15—16

 

II.I.7. Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

 

Bilangan Utuh

Misalnya:

  • dua belas (12)
  • tiga puluh (30)
  • lima ribu (5.000)

 

Bilangan Pecahan

Misalnya:

  • setengah atau seperdua (1/2)
  • seperenam belas (1/16)
  • tiga perempat (3/4)
  • dua persepuluh (2/10)
  • tiga dua-pertiga (3 2/3)
  • satu persen (1%)
  • satu permil (1o/oo)

 

II.I.8. Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.

Misalnya:

  • abad XX
  • abad ke-20
  • abad kedua puluh
  • Perang Dunia II
  • Perang Dunia Ke-2
  • Perang Dunia Kedua

 

II.I.9. Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara berikut.

Misalnya:

  • lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)
  • tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)
  • uang 5.000-an (uang lima ribuan)

 

II.I.10. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi.

Misalnya:

  • Setiap orang yang menyebarkan atau mengedarkan rupiah tiruan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
  • Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.

 

II.I.11. Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf dilakukan seperti berikut.

Misalnya:

  • Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).
  • Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

 

II.I.12. Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf.

Misalnya:

  • Kelapadua
  • Kotonanampek
  • Rajaampat
  • Simpanglima
  • Tigaraksa

 

Kata Ganti

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

  • Rumah itu telah kujual.
  • Majalah ini boleh kaubaca.
  • Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
  • Rumahnya sedang diperbaiki.

 

Kata Sandang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

  • Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
  • Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.
  • Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.
  • Sang adik mematuhi nasihat sang kakak.
  • Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
  • Dalam cerita itu si Buta berhasil menolong kekasihnya.

Catatan: Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan unsur nama Tuhan.

Misalnya:

  • Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.
  • Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa.

 

 

Demikian artikel mengenai PUEBI dari standarku.com yang bersumber dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jika anda ingin melihat naskah aslinya bisa diunduh atau download langsung pada lokasi download berikut ini : http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa

Jika ada masukan atau saran bisa disampaikan melalui kolom komentar dibawah artikel ini.

 

Sumber referensi :

 

Baca artikel lain :

 

1 thought on “Standar PUEBI”

  1. Pingback: Standar Istilah Komputer di Indonesia - Referensi Standar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *